KKN UINAM – Mahasiswa KKN UIN Alauddin Makassar Angkatan 79 Posko 3 Desa Bontoloe, Kecamatan Galesong, Kabupaten Takalar, menggagas program SIBAWANG (Sinergi Budidaya Bawang Merah) sebagai salah satu upaya mengembangkan potensi pertanian masyarakat di Dusun Bobojangang.
Program tersebut lahir dari hasil observasi mahasiswa terhadap enam dusun di Desa Bontoloe. Dalam proses pemetaan potensi wilayah, Dusun Bobojangang dinilai memiliki kawasan pertanian yang potensial, didukung kondisi tanah serta ketersediaan air yang cukup memadai.
Gagasan budidaya bawang merah kemudian muncul dari salah satu mahasiswa KKN Posko 3, Rafly, yang memiliki pengalaman dan kedekatan dengan dunia pertanian karena berasal dari keluarga petani di Jeneponto. Setelah melihat kondisi lahan di Bobojangang, Rafly menilai wilayah tersebut memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai lahan budidaya bawang merah.
“Saya sejak kecil sering melihat orang tua dan keluarga menanam bawang merah, jagung, dan tanaman lainnya. Ketika melihat kondisi lahan di Bobojangang, saya merasa daerah ini justru layak untuk dicoba ditanami bawang merah,” ungkap Rafly.
Gagasan tersebut kemudian didiskusikan bersama mahasiswa dan salah satu perangkat Desa Bontoloe, Ruslan, yang juga memiliki pengalaman sebagai pendamping penyuluh pertanian dan berdomisili di Dusun Bobojangang. Dari hasil diskusi, mahasiswa memperoleh informasi bahwa bawang merah ternyata pernah dibudidayakan di wilayah tersebut sekitar 30 tahun lalu, namun kemudian tidak lagi dikembangkan.
Hal tersebut menjadi salah satu alasan mahasiswa memilih bawang merah sebagai komoditas yang diuji melalui program SIBAWANG. Terlebih, Kabupaten Takalar memiliki potensi pertanian yang cukup besar dan masyarakat Bobojangang selama ini lebih banyak mengembangkan komoditas seperti padi dan jagung.
Gagasan tersebut juga mendapat dukungan dari Kepala Desa Bontoloe, H. Amir Guliling, S.E., M.M. Pemerintah desa menyambut baik inisiatif mahasiswa dan mendorong agar potensi pertanian di Dusun Bobojangang dapat terus dikembangkan melalui inovasi baru.
“Apalagi Dusun Bobojangang kaya akan wilayah pertanian. Buatlah sesuatu yang menjadi terobosan baru,”
demikian dukungan yang disampaikan Kepala Desa Bontoloe kepada mahasiswa.
Atas dasar tersebut, SIBAWANG dirancang sebagai demplot atau lahan percontohan, bukan sebagai produksi dalam skala besar. Mahasiswa bersama masyarakat ingin melihat secara langsung bagaimana potensi bawang merah dapat tumbuh dan berkembang di wilayah tersebut.
Tahapan pelaksanaan dimulai pada 23 Agustus 2026 dengan kegiatan perapian dan persiapan lahan. Selanjutnya, pada 24 Agustus 2026, mahasiswa KKN Posko 3 bersama Kelompok Wanita Tani (KWT) Dusun Bobojangang melaksanakan proses pembibitan dan penanaman bawang merah.
Kegiatan ini menjadi bentuk kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat dalam mengembangkan potensi pertanian lokal. Bagi mahasiswa, SIBAWANG bukan hanya tentang menanam bawang merah, tetapi juga menjadi ruang belajar bersama untuk menggali potensi desa dan menghadirkan inovasi yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.
Koordinator Desa KKN Posko 3, Ibnu Hajar, menyampaikan bahwa program tersebut merupakan hasil kerja kolektif seluruh anggota posko.
“Program ini lahir dari proses observasi dan diskusi bersama. Tentunya penyusunan dan pelaksanaannya tidak terlepas dari kerja tim teman-teman Posko 3 yang bekerja secara kolektif dan saling mendukung. Kami datang sebagai mahasiswa, tetapi kami ingin meninggalkan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat Desa Bontoloe,” ujarnya.
Ia berharap demplot SIBAWANG dapat menjadi langkah awal untuk melihat kembali potensi bawang merah di Dusun Bobojangang. Jika hasilnya baik, program tersebut diharapkan dapat menjadi role model bagi dusun lain di Desa Bontoloe maupun wilayah Kecamatan Galesong dan Kabupaten Takalar dalam mengembangkan alternatif komoditas pertanian. Dari sebuah observasi sederhana, SIBAWANG hadir sebagai langkah kecil untuk menanam harapan baru bagi pertanian Dusun Bobojangang.
Written by Ibnu Hajar
